admin March 3, 2018

Kesuksesan PT Riau Andalan Pulp & Paper (RAPP) dalam memproduksi pulp dan kertas rupanya menarik perhatian berbagai pihak. Salah satunya dari The Wharton School of the University of Pennsylvania. Mereka pernah sampai datang ke Indonesia karena tertarik mempelajarinya.

RAPP Riau merupakan unit operasional dari Grup APRIL. Induk perusahaannya itu dikenal sebagai salah satu produsen pulp dan kertas terkemuka di dunia.

Kapasitas produksi yang tinggi menjadi salah bukti nyata. Per tahun, APRIL sanggup menghasilkan pulp sebanyak 2,8 juta ton dan kertas mencapai 850 ribu ton. Dalam hal ini, PT RAPP merupakan pihak yang dipercaya APRIL sebagai pelaksana proses produksi.

Keberhasilan dalam produksi ternyata tidak bisa lepas dari kemampuan untuk mendapatkan bahan baku. Ketika memproduksi pulp dan kertas, RAPP Riau memerlukan kayu. Untuk mendapatkannya, mereka tidak mengambil dari alam, tapi justru membuat perkebunan sendiri.

Saat ini, Riau Andalan Pulp & Paper tercatat mengelola perkebunan seluas 476 ribu hektare. Di sana mereka menanaminya dengan pohon akasia yang menjadi bahan baku pulp dan kertas. Untuk pengelolaan, RAPP bekerja sama dengan sekitar 40 mitra pemasok jangka panjang.

Langkah ini dirasa menarik. Sebab, tidak mudah mempertahankan tingkat produksi sembari mengelola perkebunan. Namun, ternyata RAPP Riau mampu menjalankannya.

Kuncinya terletak dalam konsistensi untuk mendapatkan bibit. PT RAPP bisa menciptakan sistem pembibitan pohon akasia yang baik. Ini membuat mereka mampu menanam pohon sekitar 150 juta per tahun. Akibatnya, suplai bahan baku mereka selalu aman.

Hal inilah yang rupanya menarik perhatian The Wharton School of the University of Pennsylvania. Mereka ingin mempelajari cara-cara Riau Andalan Pulp & Paper dalam menerapkan teknologi dan proses keberlanjutan dalam proses produksi.

Seperti dilaporkan oleh Riau Terkini, mereka pernah hadir langsung ke Indonesia untuk belajar pada September 2014. Bersama dengan Professor of Multinational Management, Stephen J.Kobrin dan Dr. Regina Abrami, sebanyak 17 orang mahasiswa MBA The Wharton School of the University of Pennsylvania mengunjungi beragam fasilitas RAPP.

Salah satu yang menarik perhatian mereka adalah Kerinci Central Nursery. Ini adalah pusat pembibitan pohon akasia dan pohon eukaliptus yang dikembangkan oleh RAPP. Di sini bibit-bibit disemai dan dirawat hingga akhirnya siap untuk ditanam di perkebunan.

PT RAPP menerapkan dua sistem dalam pembibitan, yakni stek pucuk daun dan dari biji. Namun, dari dua teknik tersebut, menurut Asisten Kepala Nursery PT RAPP Afri Dharma, teknik pertama lebih bagus karena kualitasnya bisa dikontrol. Hasil kayu yang dihasilkan sangat baik mencapai 5 meter kubik per hektare per tahun, lebih banyak dibandingkan dengan seedling.

Riau Andalan Pulp & Paper memiliki pusat pembibitan seperti ini di tiga tempat. Pertama adalah di Pangkalan Kerinci yang memiliki 1,2 juta pohon induk. Lalu, mereka juga mempunyai fasilitas serupa di Baserah dan Pelalawan. Di dua tempat tersebut masing-masing tersedia 800 ribu pohon induk.

“Jadi RAPP memiliki 2.8 juta tanaman induk untuk tiga jenis tanaman yaitu akasia crassicarpa, akasia mangium dan eucalyptus,” kata Afri di Technology Indonesia.

Di tiga pusat pembibitan tersebut, bibit-bibit dirawat hingga berusia sembilan sampai sepuluh minggu. Sesudah itulah bibit dapat ditanam di perkebunan. Nantinya pohon baru dapat dipanen sekitar lima tahun sesudahnya.

MENERAPKAN TEKNOLOGI TERBARU

Pekerjaan pusat pembibitan milik RAPP Riau dirasa menarik oleh pihak lain seperti The Wharton School of the University of Pennsylvania karena menerapkan teknologi tinggi. APRIL mampu mengembangkan riset yang menunjang kebutuhan produksinya, namun tetap bisa merawat alam.

Lihat saja, agar kapasitas produksi pulp dan kertas tetap terjaga, kontrol yang baik terhadap bahan baku menjadi keharusan. Maka, pembibitan jadi salah satu faktor penting dalam proses perkebunan.

Hal itu membuat target tinggi dipatok oleh PT RAPP terhadap pusat pembibitan miliknya. Per tahun mereka diharuskan mampu menghasilkan bibit hingga 200 juta buah. Ini semata demi upaya untuk menanam setidaknya 150 juta pohon per tahun yang mereka canangkan. Tak heran, bidang ini sangat penting.

“Ini adalah langkah pertama dalam bisnis di sektor kehutanan. Masa depan sumber fiber untuk bisnis tergantung dari yang dihasilkan oleh nursery saat ini. Bibit berkualitas, tanaman yang kuat, dan teruji di lingkungan serta untuk produk bisnis diperlukan untuk meningkatkan pertumbuhan bisnis. Ini adalah kunci untuk bisnis fiber yang sukses, “ ujar Deputy Head Kerinci Central Nursery Tim Fenton.

Selain mengunjungi Kerinci Central Nursery, para mahasiswa The Wharton School of the University of Pennsylvania juga mengunjungi fasilitas produksi RAPP Riau. Melihat area yang terintegrasi dalam produksi bubur kertas dan kertas.

Di sana mereka melihat bagaimana Riau Andalan Pulp & Paper mampu menjalankan proses produksi yang ramah lingkungan. Bahan baku berupa kayu diolah sedemikian rupa hingga menjadi pulp atau bahkan kertas.

Selama itu, banyak pelajaran yang dapat diambil. Maklum saja, PT RAPP menjalankan produksi dengan efisien. Operasional perusahaan berjalan dengan upaya keras untuk efisiensi energi, air, hingga menekan emisi yang dikeluarkan.

Langkah-langkah itu berbuah positif. Selain aman terhadap lingkungan, pabrik milik RAPP disebut sebagai satu dari lima pabrik pulp dan kertas terefisien di dunia.

Kunjungan itu dirasa membanggakan. Direktur Royal Golden Eagle (induk perusahaan APRI, Red.), Anderson Tanoto, menilai bahwa pihaknya pantas menjadi contoh bagi pihak lain.

“Merupakan kebanggaan bagi kami dapat bermitra dengan The Wharton School of the University of Pennsylvania dan memfasilitasi kunjungan para mahasiswa eksekutif MBA ini. Yang terpenting lagi adalah, pemilihan PT Riau Andalan Pulp & Paper sebagai salah satu contoh dalam materi belajar mengenai inovasi merupakan bukti bahwa industri tanah air telah menjadi referensi dunia dalam penggunaan teknologi yang mampu berjalan beriringan antara bisnis, kelestarian lingkungan dan juga kesejahteraan masyarakat di sekitarnya,” ucap Anderson Tanoto.

Hal yang dinyatakan oleh Anderson Tanoto memang tepat. Riau Andalan Pulp & Paper memang memegang teguh prinsip-prinsip berkelanjutan dan ramah terhadap alam ketika menjalankan produksi.

Sebagai contoh sederhana, mereka menekan penggunaan energi fosil. Berkat kemampuan pengolahan limbah produksi, PT RAPP mampu memproduksi energi listrik dari sumber terbarukan yang aman terhadap alam. Hal itu membuat penggunaan energi fosil di sana tinggal 20 persen saja.

Bukan hanya itu, keberadaan RAPP Riau juga terbukti memberi manfaat besar kepada masyarakat di sekitarnya. Lihat saja di Provinsi Riau. Berdasarkan hasil riset Unit Penelitian Ekonomi dan Sosial Universitas Indonesia, RAPP mampu mendukung sekitar 5,4 persen pendapatan di sana.

Hal itu hanya sedikit contoh. Masih banyak kontribusi besar lain dari PT RAPP terhadap masyarakat. Pantas saja pihak asing mau mempelajari beragam inovasi yang mereka lakukan. Sebab, RAPP Riau mampu meningkatkan kinerja bisnisnya dengan langkah-langkah bertanggung jawab terhadap alam maupun masyarakat.

Leave a comment.

Your email address will not be published. Required fields are marked*